Jalan ke Pertambangan PT PSU Dibokir Warga

TAPAKTUAN – Puluhan warga Desa Paya Ateuk, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan, memblokir jalan menuju PT Pinang Sejati Utama (PT PSU) di desa tersebut. Aksi ini menyebabkan aktifitas angkutan material batu bijih besi terganggu.

Bobi (30) warga setempat kepada Serambi, Selasa (26/4) mengatakan, aksi pemblokiran ruas jalan dengan kayu di Desa Paya Ateuk itu dilakukan sebagai akumulasi kekecewaan warga terhadap sikap PT PSU yang hingga kini belum menuntaskan masalah ganti rugi tanah warga yang selama ini dijadikannya sebagai perluasan jalan untuk dilalui mobil pengangkut material batu bijih besi dan tanah yang diduga mengandung emas. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Cina Asing Garap Timah Aceh

* Dipergoki Gubernur dan Pangdam
Serambi Indonesia, 10 Maret 2011
BANDA ACEH – Sebanyak 15 warga negara asing (WNA) asal Cina, dipergoki sedang melakukan penambangan timah dalam areal hutan lindung antara Pining-Lokop (Gayo Lues-Aceh Timur), yang konon termasuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Para penggarap timah Aceh asal Cina itu dipergoki rombongan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan Pangdam Iskandar Muda (IM) Mayjen TNI Adi Mulyono, saat melakukan kunjungan kerja ke wilayah itu, Selasa (8/3).

Gubernur Irwandi Yusuf bersama Pangdam IM Mayjen TNI Adi Mulyono dan kedua istri pejabat tinggi Aceh itu masing-masing, Darwati A Gani dan Nunuk Tri Handayani berada dalam satu mobil Rubicon warna hijau BL 666 JM. Mobil yang langsung disopiri Gubernur Irwandi berada paling depan dari 12 mobil yang ikut dalam rombongan itu.

Saat rombongan sedang melakukan perjalanan menelusuri hutan belantara dengan kondisi jalan tikus –lebar badan jalan hanya paspasan ban mobil– yang penuh kubangan lumpur serta berbatuan cadas dan besar. Tiba-tiba di tengah hutan belantara di pinggir jalan dekat daerah aliran sungai (DAS) Krueng Uring ditemukan sebuah camp yang terbuat dari papan dengan pagar kawat. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Penambang Gunung Ujeun Di Tertibkan

Gubernur Keluarkan Izin Untuk Pertambangan Rakyat
Serambi, 4 Maret 2011
BANDA ACEH – Penambangan emas rakyat di kawasan Gunong Ujeuen, Kecamatan Krueng Sabe, Aceh Jaya, kini mulai ditertibkan. Upaya penertiban ini ditandai dengan penyerahan 1.000 hektar area bebatuan yang mengandung emas itu, dari Pemerintah Aceh kepada Pemkab Aceh Jaya, di Banda Aceh, Rabu (2/3).

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Rabu (2/3) kemarin telah menandatangani izin 1.000 hektare pencadangan areal tambang rakyat untuk Aceh Jaya. “Izin ini dimaksudkan agar kawasan penambangan emas rakyat itu legal, tertib, keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan,” kata Bupati Aceh Jaya Azhar Abdurrahman, seusai diterima Gubernur Irwandi Yusuf, di Banda Aceh, kemarin.

Menurut Bupati Azhar, izin tersebut telah diajukan pihaknya sejak 2009 lalu, baru ditandatangani Gubernur dan diserahkan pada 2 Maret kemarin. Areal kawasan pencadangan kawasan tambang emas rakyat seluas 1.000 hektare itu nantinya akan dikelola oleh satu induk koperasi dengan 20 anak koperasi. “Jadi, nanti, sasyarakat yang menambang emas di wilayah Gunong Ujeun, diwajibkan masuk menjadi anggota koperasi,” katanya. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

LINGKUNGAN HIDUP DAN DUNIA PERTAMBANGAN

M.Yasir Surya
Beberapa tahun belakangan, industri pertambangan nyata-nyata menghadapi uncertainty investment climate, mulai dari goncangan anti pertambangan yang makin besar, munculnya UU No. 41/1999 yang sangat sektoral hingga gelombang Trans National Corporate dengan kepentingan isu yang berbeda-beda.

Ada image bahwa pertambangan adalah trouble maker environment and deforestation atau tambang si perusak lingkungan sehingga lebih baik moratorium dan tutup saja semua perusahaan ekstraktif tersebut.

Tidak ada yang salah mutlak dalam pelemparan argument tersebut. Tidak perlu ditolak pula bahwa tambang itu merusak lingkungan. Hanya perlu sedikit pemilahan bahwa berbagai argumen yang dilontarkan dapat dikelompokkan menjadi dua: yang paham dan yang tidak paham tentang pertambangan. Argumen yang dilemparkan oleh pihak yang tidak paham –dan kuantitasnya sangat besar- telah menimbulkan persepsi negatif industri pertambangan dan menyesatkan publik dengan mengeluarkan berbagai statement yang keliru. Baca entri selengkapnya »

Komentar (5) »

Pemerintah Didesak Cabut Izin Penambangan Emas Geumpang

peti

Serambi Indonesia,8 November 2010
SIGLI – Menyikapi ketidakjelasan eksplorasi tambang emas di Kecamatan Geumpang, Pidie, warga Pidie meminta Pemkab Pidie dan Pemprov Aceh mendesak segera menutup perusahaan tambang emas karena dinilai telah nyata melakukan eksploitasi secara besar-besaran.

“Meski kini sekitar 12 perusahan raksasa berdalih masih melakukan tahap eksplorasi terhadap keberadaan tambang emas yang dikandung bumi Pidie tapi nyatanya kini telah memasuki tahab ekploitasi,” sebut T Faisal MY warga Kramat Dalam, Kota Sigli, Pidie, kepada Serambi, Minggu (7/11).

Sebagai bukti konkret, terangnya, di halaman menatap Aceh pada Harian Serambi Indonesia beberapa waktu lalu jelas terpampang kondisi rill hasil alam Pidie (Geumpang) berupa emas telah dikuras secara besar-besaran. Dampak yang dihasilkan nantinya, kata Faisal, akan membuat kerusakan lingkungan dan hutan lindung. “Klimak semua itu akan berdampak pada kerugian daerah,” jelasnya. Baca entri selengkapnya »

Komentar (3) »

Penambangan Emas Rakyat di Aceh Jaya

Penggalian Meluas ke Gunong Alue Peuleukong
Serambi Indonesia, 7 November 2010
CALANG – Penambangan emas rakyat di Aceh Jaya, yang sebelumnya hanya terpusat di kawasan Gunong Ujeuen, Kecamatan Krueng Sabe, dilaporkan kini meluas hingga ke Gunong Alue Peuleukong, di Desa Ie Jeureuneh, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya.

Proses ekspansi di sektor penambangan rakyat wilayah tersebut, diduga semakin menyempitnya area yang bisa digali di kawasan Gunong Ujeuen. Selain itu, deposit atau kandungan emas juga semakin menipis, sehingga para penambang mencari lokasi baru dengan melakukan penambangan di kawasan Gunong Alue Peuleukong.

Berdasarkan keterangan Keuchik Ie Jeurengeh, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya, Khairul Anwar, penambangan di lokasi yang termasuk dalam wilayah desa yang dipimpinnya itu mulai dilakukan awal Ramadhan 1431 Hijriyah lalu. “Saat ini, jumlah penambang yang mengincar bebatuan mengandung emas itu terus bertambah,” katanya kepada Serambi, di Calang, Aceh Jaya, Sabtu (6/11). Baca entri selengkapnya »

Komentar (1) »

Massa Pro-LSM Datangi DPRA

* Pemkab Aceh Besar Harus Tanggap
Serambinews, 28 Oktober 2010
BANDA ACEH – Serombongan besar massa dari Kecamatan Lhoong, termasuk karyawan PT Lhoong Setia Mining (LSM), Rabu (27/10) siang mendatangi Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Selain mendesak tetap beroperasinya PT LSM, mereka juga mengecam aksi demo sebelumnya yang menuntut Gubernur Aceh menutup perusahaan penambangan bijih besi itu.

Massa yang menggunakan puluhan truk dan mobil pikap itu tiba di halaman Gedung DPRA sekitar pukul 11.10 WIB dan langsung berorasi sambil membentang spanduk bertuliskan; ‘PT LSM tetap beroperasi’. Aksi itu mendapat pengawalan aparat kepolisian dan Satpol PP.

Koordinator Aksi, Rauyani Djamil dalam orasinya mengecam aksi demo sebelumnya yang meminta agar perusahaan bijih besi itu menghentikan operasi. “Kami atas nama masyarakat dan karyawan PT LSM menegaskan tidak ada kata tutup. PT LSM tetap harus beroperasi demi kami, keluarga dan seluruh masyarakat Lhoong,” tandas Rauyani Djamil disambut yel-yel dukungan massa. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

PT MKM Tarik Peralatan dari Lokasi Tambang

Dialog Berlangsung Panas
serambi Indonesia, 26 Oktober 2010
TAPAKTUAN – PT Mulia Kencana Makmur (MKM) akhirnya menepati janji untuk menarik semua peralatan penelitiannya yang sudah ditempatkan di lokasi pertambangan Desa Panton Luas Sawang, Aceh Selatan. Penarikan itu untuk memenuhi permintaan masyarakat penambang yang melakukan unjuk rasa, Sabtu (23/10) lalu.

Supervisor Non-Technical PT MKM, Suyanto Tirto yang dihubungi Serambi, Senin (25/10) mengaku sudah menarik perlengkapan eksplorasi atau pengeboran di lokasi tambang emas Desa Panton Luas, sekaligus menghentikan sementara aktivitas perusahaan yang terkait dengan penelitian di tanah maupun sungai. Penelitian itu tadinya dimaksudkan untuk mengetahui kandungan mineral (tes mineralisasi) yang terkandung di dalam tanah dan sungai setempat.

Suyanto menambahkan, penarikan dilakukan sesuai dengan permintaan masyarakat penambang yang disampaikan Sabtu lalu saat mereka memblokir ruas jalan menuju lokasi tambang, sekaligus menolak PT MKM untuk melakukan aktivitas pertambangan di kawasan itu. Baca entri selengkapnya »

Komentar (2) »

Menambang Ribut di Lokasi Tambang Salam Serambi

Serambi Indonesia, 25 Oktober 2010
Setelah terjadi berkali-kali demo massa terhadap PT Lhoong Setia Mining (LSM) di Aceh Besar, kini demo terhadap pengelola tambang merembet ke Kecamatan Sawang, Aceh Selatan.

Sebagaimana diwartakan harian ini kemarin, ribuan warga Kecamatan Sawang, Aceh Selatan, Sabtu (23/10) kembali melancarkan protes terhadap perusahaan penambang emas di kecamatan itu, yakni PT Mulia Kencana Makmur (MKM).
Bukan lagi sebatas memblokir jalan, para pengunjuk rasa malah melarang PT MKM beraktivitas dan mendesak agar semua peralatan milik perusahaan ditarik dari lokasi tambang, Panton Luas. Baca entri selengkapnya »

Komentar (1) »

Tambang Emas Manggamat Telan Korban Jiwa

Serambi Indonesia, 5 Oktober 2010

TAPAKTUAN – Dua penambang emas ilegal tertimbun material longsor di pertambangan emas kawasan pegunungan Desa Simpang Tiga, Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan, Senin (4/10). Seorang di antaranya meninggal. Ini kejadian pertama di Kecamatan Manggamat, namun peristiwa ketiga di Kabupaten Aceh Selatan. Korban yang tewas itu bernama Safruddin (28), warga Desa Paya Ateuk. Sedangkan yang selamat bernama Samsir (25), warga Desa Panton Bilie. Keduanya merupakan warga Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan.

Informasi yang diperoleh Serambi dari lapangan kemarin, korban yang tertimbun longsor menjelang subuh Senin itu sebanyak tiga orang. Namun, camat dan kapolsek setempat mengatakan, korban yang tertimbun hanya dua orang. Salah satunya selamat. Kapolres Aceh Selatan, AKBP Bambang Syafrianto SIK melalui Kapolsek Kluet Tengah Iptu Ridwan Nasir membenarkan adanya peristiwa itu. Longsor tersebut diperkirakan terjadi menjelang subuh setelah kawasan itu diguyur hujan lebat yang mengakibatkan sejumlah desa direndam banjir. Dikisahkan, Safruddin (korban meninggal) dan Samsir (korban selamat) bersama sejumlah temannya mendatangi lokasi tambang dengan maksud menggali lubang untuk mencari butiran emas di lokasi tambang emas PT Multi Mineral Utama (PT MMU), kawasan pegunungan Desa Simpang Tiga Manggamat. Ketika memasuki lubang tersebut, tiba-tiba tanah gunung yang basah akibat diguyur hujan runtuh dan menimbun keduanya. Safruddin yang sudah masuk ke dasar lubang tertimbun total, sedangkan Samsir yang sedang memasuki lubang yang sama selamat dari maut. Ia hanya mengalami luka dan patah tulang akibat tertimpa batu besar yang longsong dari bibir lubang. Sedangkan tiga rekan mereka yang sedang berdiri di pintu lubang itu berhasil lari untuk menyelamatkan diri. Melihat ada korban yang terjebak di dalam lubang, belasan penambang pun langsung menggali material longsor untuk mengeluarkan korban. Tapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Kabar tentang adanya penambang yang tertimbun di lubang tambang akhirnya sampai ke polisi. Lalu sejumlah personel polisi dan Brimob bergegas menuju lokasi untuk mengevakuasi korban. Kedua korban akhirnya berhasil dikeluarkan dari lubang maut itu sekitar pukul 12.00 WIB kemarin. Selanjutnya dibawa pulang oleh keluarga dan rekannya ke Desa Paya Ateuk dengan berjalan kaki melintasi kawasan pegunungan sejauh 3 km. Sementara Camat Pasie Raja, H Rustam yang dikonfirmasi Serambi, mengakui telah mendapatkan informasi tersebut. Namun, hingga tadi malam ia belum mengetahui pasti penyebab terjadinya longsor dan jumlah korban.

Berdasarkan informasi yang diterimanya secara beranting dari masyarakat, korban yang tertimbun longsor di lokasi tambang emas milik PT MMU itu tiga orang. Satu korban meninggal, satu selamat, dan satu lagi masih di dalam lubang. “Menurut keterangan, kedua korban yang sudah berhasil dievakuasi itu kini masih berada di Desa Paya Ateuk, tidak dibawa langsung ke rumah sakit,” demikian Camat Pasie Raja. Selain di Manggamat, tambang emas ilegal juga terdapat di Sawang, Aceh Selatan. Di tempat terakhir ini, sudah dua kali terjadi peristiwa kematian penambang di lubang tambang.

Wagub Aceh Muhammad Nazar, secara terpisah kemarin sore menyatakan prihatin atas meninggalnya seorang penambang di Kecamatan Manggamat, Aceh Selatan itu. “Ini bukan kejadian pertama di Aceh Selatan. Penambang haruslah sangat berhati-hati. Pemkab pun harus mencegah terjadinya penambangan liar yang bisa berakibat fatal bagi penambang, juga dapat menimbulkan bencana ekologis,” kata Wagub di Banda Aceh. Menurutnya, pemkab harus mengatur sedemikian rupa kebijakan yang lebih tepat dalam hal pertambangan rakyat yang berbasis penanggulangan dan pengurangan risiko bencana, serta mencegah terjadinya kerusakan lingkungan. (az)

Komentar (3) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.